Archive for January 7th, 2010
Harga Emas Melonjak
Jakarta, Strategydesk – Setelah menggapai level tertinngi tiga minggunya kemarin, emas sedikit terkoreksi pada hari ini, dimana pelaku pasar mengantipasi rilisan data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pada minggu ini. Indikator ekonomi AS telah menunujukkan adanya perbaikan, namun lapangan kerja masih menjadi faktor utama dalam menentukan arah kebijakan mata uang dan dollar. Emas spot naik di $1.140.20 kemarin, menguat 4% di awal tahun ini, didukung oleh arus investasi awal tahun. Selain itu penguatan mata uang Asia atas dollar telah memberi dorongan minat beli bagi kawasan regional lainnya. Emas diperkirakan bisa mencapai level $1.500 di tahun ini karena kekhawtiran mengenai inflasi mendorong investor untuk membeli. Selain itu, cerahnya prospek ekonomi China berarti permintaan di negara itu kemungkinkan akan tinggi. Fokus pasar berikutnyaadalah data ketenagakerjaan AS, yang akan dirilis besok malam. Bila kondisi ketenagakerjaan AS membaik, bisa menjadi sinyal pemulihan permintaan dan ekonomi. Bila sebaliknya, maka pelaku pasar akan menarik dananya. Namun perlu diwaspadai kemungkinan data payroll itu akan mengangkat dollar, yang tentu saja bisa berdampak buruk ke emas. Sementara itu, cadangan emas di SPDR Gold Trust mengalami penurunan sebesar 4,876 ton, atau 0,4% menjadi 1.123,869 pada 6 Januari. Dari kajian teknikal, pola long white candlestick yang terbentuk kemarin menunjukkan bahwa buyer kembali menguasai perdagangan. Pola tersebut sekaligus menjadi inidikasi adanya bullish continuation. Indikator RSI masih menunjukkan uptrend, sementara stochastic mulai menunjukkan overbought, memberikan ruang bagi adanya koreksi. Harga telah berhasil ditutup di atas level support-nya di 1125 (sebelumnya resistance), jika level tersebut mampu dipertahankan, maka penguatan emas bisa berlanjut untuk menguji resistance kuatnya di 1156.25. Strategi:
IHSG Rawan Profit Taking
Ini berita pagi ini yang didapatkan.
Jakarta, Strategydesk – Momentum kenaikan IHSG diperkirakan mulai dibatasi oleh aksi profit-taking oleh investor dan spekulan dalam kondisi IHSG mengalami kenaikan yang signifikan dalam 9 hari perdagangan terakhir yang baru saja mencapai level tertinggi sejak Maret 2008 di 2.622,116 kemarin. Kondisi pasar yang overbought dan sebagian dari saham unggulan terlihat memiliki valuasi yang lebih mahal dibandingkan saham lainnya, mendorong aksi profit-taking menjelang rilisan sejumlah data ekonomi penting global, guna mencari petunjuk dari proses pemulihan ekonomi global. Keputusan BI untuk menahan suku bunga di 6,50%, karena belum melihat potensi inflasi di semester 1-2010 dan suku bunga saat ini masih kondusif dalam menjaga stabilitas keuangan dan mendorong intermediasi perbankan, seharusnya memberikan sentimen positif kepada saham domestik. Bank Indonesia juga melaporkan berita positif dari laporan cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2009 mencapai US$ 66,1 miliar atau setara 6,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Kinerja saham grup Bakrie diperkirakan masih memberikan support dan menahan potensi koreksi IHSG. Review : Investor melakukan aksi profit taking di sejumlah saham unggulan yang telah menguat tajam sejak awal pekan ini, di tengah kekhawatiran mahalnya valuasi saham domestik dan rally selama 8 sesi perdagangan terakhir, diikuti tidak adanya kejutan dari hasil keputusan suku bunga Bank Indonesia kemarin. Aksi profit taking yang terjadi di saham grup Astra (ASII, AALI, UNTR), PT Telkom Tbk (TLKM), perbankan (BMRI, BBRI, BBCA), membebani kinerja IHSG, kendati masih disupport oleh kinerja saham grup Bakrie yang mengalami kenaikan, menjelang RUPSLB PT Bumi Resources Tbk (BUMI) hari ini. Kinerja IHSG kontras dengan kinerja mayoritas indeks saham Asia kemarin yang mengacuhkan penurunan tipis indeks saham DJIA. Laju penguatan rupiah terhadap dolar (penutupan di Rp 9,255), ikut memberikan support kepada IHSG. IHSG terkoreksi tipis –1,98 poin (-0,08%), di 2.603,297, transaksi tercatat Rp 5,14 triliun. Investor asing membukukan net buy sebesar Rp 644 miliar dibandingkan net buy Rp 617,9 miliar (05/01/2010) sehingga total net buy Rp 1,713 triliun di awal pekan ini. Indeks saham MSCI Asia Pasific masih melanjutkan ke level tertinggi 16-bulan dan mendorong indeks mengalami kenaikan selama 4 sesi perdagangan berturut-turut, karena lebih tingginya penjualan Toyota Motor Corp dan Nintendo Co, memicu optimisme permintaan di ekonomi AS mulai pulih. Indeks MSCI Asia Pasific menguat 0,4% menjadi 124,13, menguat 3,6% dalam 4 sesi terakhir. Indeks Nikkei 225 menguat 0,5% setelah Kyodo News melaporkan pemnerintah akan menerima mundurnya Menteri Keuangan Hirohisa Fujii yang saat ini berada dalam kondisi sakit. Indeks Taiex Taiwan menguat 1,4%, Hong Kong menguat 0,6%, Kospi Korea menguat 0,9%. Ulasan Tekanikal (klik grafik untuk memperbesar) IHSG menunjukkan signal negatif dari pola candle doji (indikasi bearish reversal minor), didukung oleh ADX & stochastic trending up (strong momentum), MACD bullish, seharusnya membatasi potensi koreksi di pekan ini dan menopang kinerja bullish IHSG. Hitungan EW: proses wave impulse 3/5 mendorong perkiraan maksimal target minor berada di projection 100.0% di 2.629 bahkan jika extend di fibonacci retracement 138,2% di 2.680. Berdasarkan Analisa Gann Square, IHSG dapat mencapai target 3.150 selama bertahan di atas support line 2.390 hingga akhir Maret bahkan mencapai target 3.800 di bulan Juni jika bertahan diatas support line 2.850. Bilamana gagal ditutup di atas support target 1.500/1.800 di H2 2010. Hold buy breakout 2.561, target 2.630, stop di 2.565. Resistance : 2638.78/2629.91/2621.04/2612.71. PP 2604.37 Support : 2595.50/2586.63/2578.30/2569.97
BI Rates Is Unchanged
It’s just like what I have read from IDX news and also on Bloomberg by Aloysius Unditu and Novrida Manurung. We hope that that unchanged rates will be good for our market and overall economy in Indonesia. I’ll post some news that I pick up from there.
Jan. 6 (Bloomberg) — Indonesia’s central bank kept its benchmark interest rate unchanged for a fifth month, saying it isn’t concerned about inflation pressures in the first half.
Bank Indonesia maintained its reference rate at 6.5 percent, the lowest level since its introduction in July 2005, according to a statement in Jakarta today. All 18 economists in a Bloomberg News survey predicted the decision.
Inflation in Southeast Asia’s largest economy held near a decade low in December, giving the central bank more time before it joins other Asian policy makers in raising borrowing costs. Barclays Plc and HSBC Holdings Plc expect the threat of faster consumer-price gains this year may prompt Bank Indonesia to act next quarter.
“Still-subdued inflationary pressures have definitely left the central bank in the comfort zone, allowing it to watch what is happening to inflation and economic growth before embarking on any monetary tightening,” said Robert Prior-Wandesforde, senior Asia economist at HSBC in Singapore. “We continue to expect the earliest tightening to come only in the later part of the second quarter.”
Indonesia’s central bank halted cutting rates last August after slashing borrowing costs for nine straight months to shield the $514 billion economy from the worst global recession since the 1930s. The nation has fared better than its neighbors during the worldwide slump, relying less on exports and enjoying consumer confidence buoyed by the most stable political climate since the ouster of former dictator Suharto in 1998.